| MEDIA CENTER KOMISI PEMILIHAN UMUM |
![]() |
Sambut Bulan Ramadhan, KPU Adakan Peringatan Isra Mi’raj 1431 HSenin, 26 Juli 2010 12:38
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar Sedang Memberikan Siraman Rohani Dalam Peringatan Isra Mi'raj 1431 di KPU. (foto: dod/arf/hupmas)
Ketua KPU Prof. Dr. HA. Hafiz Anshary AZ, MA dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap acara ini. “Saya mengharapkan agar acara-acara semacam ini terus ditingkatkan intensitasnya, Kalau perlu digelar pengajian rutin, khusus untuk menyambut hari-hari besar Islam,” himbaunya. Isra Mi’raj, menurut Hafiz, merupakan peristiwa besar sebagai tonggak awal turunnya perintah sholat lima waktu. Hal itu juga memberikan makna mengenai kehidupan horizontal (Hablum Minan Nas) dan vertikal (Hablum Minallaah) dalam sendi kehidupan kaum muslim. Bulan Ramadhan adalah bulan yang dimuliakan dimana di bulan itu setiap muslim dapat membersihkan diri serta mendekat kepada Sang Khalik. Tetapi puasa jangan dijadikan alasan, sehingga mengurangi efektivitas karyawan dalam bekerja. “Puasa jangan dijadikan kambing hitam untuk menjadi malas, justeru dengan berpuasa kita tingkatkan semangat kita untuk bekerja, seperti yang dicontohkan oleh Rasul dan sahabatnya,” ajak pria yang mengambil bidang studi Sejarah Peradaban Islam dalam pendidikan S3-nya itu. Ia juga mengilustrasikan kegiatan yang dilakukan masyarakat di daerahnya, Banjarmasin, Kalsel, setengah bulan menjelang Ramadhan. “Kalau di kampung saya, mulai tanggal 15 Sya’ban (dikenal sebagai Nisfu Sya’ban), orang-orang sudah mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan. Di malam itu, mereka membaca Yasin (Surat Yasin) tiga kali sehabis Magrib,” tuturnya. Sementara itu, Nasaruddin Umar banyak mengulas mengenai porsi “betina” dan “jantan” dalam Al Quran. Ia menganalogikan, di dalam Surat An Nahl dan Surat Al Ankabut banyak menceritakan besarnya kekuatan kaum perempuan. “Yang menjadi ratu lebah itu betina, yang membuat jaring laba-laba juga betina, ini kan memberi gambaran betapa powerfull-nya kaum perempuan,” ujarnya. Nasaruddin menambahkan, Isra Mi’raj mengandung dua makna. Isra diartikan sebagai perjalanan horizontal yang masih dapat diikuti oleh akal manusia, sedangkan Mi’raj merupakan perjalanan batiniah (ma’rifat) seorang hamba. Setelah melalui proses pembelajaran dari analogi-analogi tersebut, seorang muslim kemudian dapat memasuki fase pembersihan diri, yakni melalui puasa di bulan Ramadhan. “Hakikatnya, di bulan Ramadhan kita meng-install energy feminim,” terangnya. Energi feminim yang dimaksud adalah pengejawantahan dari sifat Allah SWT yang Maha Rahman dan Maha Rahim, yang diterjemahkan sebagai sifat saling menyayangi antar sesama. (dd/red) |
Jumlah Kunjungan Konten : 946081
by BAMBOEDOEA Communications KOMISI PEMILIHAN UMUM
Jl. Imam Bonjol No. 29 © 2009 Komisi Pemilihan Umum | |||||