MEDIA CENTER KOMISI PEMILIHAN UMUM
 

Timsel Cecar Integritas Calon Anggota KPU

Jakarta, mediacenter.kpu.go.id- Memasuki hari kedua pelaksanaan tes wawancara calon anggota KPU RI, Selasa (14/2), Tim Seleksi (Timsel) kembali mencecar kesepuluh calon anggota KPU dengan beragam pertanyaan terkait dengan kompetensi dalam bidang demokrasi dan kepemiluan, integritas, dan independensi.
Dari ketiga bobot penilaian tersebut, Timsel tampaknya sangat menekankan pada aspek integritas, yang mutlak harus dimiliki oleh seorang anggota KPU RI.

Timsel juga berusaha memperoleh klarifikasi dari para calon terkait dengan rekam jejak yang berasal dari Curriculum Vitae (CV), masukan-masukan serta tanggapan masyarakat. Selain itu, Timsel selalu menanyakan prestasi terbaik yang dimiliki oleh calon, dan apa saja langkah-langkah inovatif yang akan dilakukan apabila menjadi anggota KPU.

Untuk menguji kompetensi, integritas, dan independen para calon, Timsel terkadang mengajukan pertanyaan-pertanyaan “ringan”, seperti, apakah calon pernah memarahi seseorang dan alasannya, pernah berkelahi atau tidak, kesanggupan untuk bekerja 24 jam di KPU, bagaimana cara menghadapi stres dan tekanan-tekanan, kesiapan untuk meninggalkan keluarga bagi calon yang berdomisili di luar Jakarta, serta bagaimana jika ada upaya penyuapan.
Latar Belakang Para Calon
Tes wawancara, yang merupakan rangkaian seleksi tahap III, digelar di Ruang Java Lt. III, Hotel Millennium, Jakarta, dan terbuka untuk umum. Dari 30 calon anggota KPU yang diseleksi pada tahap ini, akan mengerucut menjadi 14 nama, dan akan diserahkan oleh Timsel kepada Presiden pada 24 Februari mendatang.

Kesepuluh calon anggota KPU yang menjalani tes wawancara hari kedua ini adalah, Ikhwaluddin Simatupang, Abdul Haeba Ramli, Arief Budiman, Hemat Dwi Nuryanto, Bosman, Evie Ariadne Shinta Dewi, Mohammad Adhy Syahputra Aman, Enny Nurbaningsih, Ummi Azizah Rachmawati, dan Lukman Hakim.

Kesepuluh peserta tes itu memiliki latar belakang yang beragam. Empat orang merupakan anggota KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota (Arief Budiman, Bosman, Evie Ariadne, dan Lukman Hakim), empat orang dosen (Ikhwaluddin, Abdul Haeba, Enny Nurbaningsih, dan Ummi Azizah), seorang komisaris perusahaan IT (Hemat Dwi Nuryanto), dan seorang penggiat demokrasi pada lembaga asing (Adhy Syahputra).

Menurut anggota Timsel, Anies Baswedan, beragamnya latar belakang para calon itu justeru menguntungkan Timsel dalam memberikan penilaian dan mendapatkan calon anggota KPU yang terbaik.

“Dengan latar belakang yang berbeda-beda, memudahkan kami (Timsel) dalam menilai para calon. Mudah-mudahan kami mendapat yang terbaik,” ujar Anies saat dikonfirmasi di sela-sela pelaksanaan tes.

Terkait transparansi Timsel dan kemungkinan adanya pihak yang kembali mengajukan gugatan, Anies menanggapinya dengan santai. “Timsel dapat membuka rekam jejak calon sepanjang itu bisa dibuka kepada umum, dan tidak merugikan yang bersangkutan. Tapi, kita juga harus menghargai privasi seseorang,” tandasnya.


Jalannya Wawancara

Sesuai jadwal, Timsel yang beranggotakan delapan orang, sejak pagi, pukul 06.30 WIB, sudah memberondong peserta pertama, Ikhwaluddin, dengan pertanyaan-pertanyaan seputar penyelenggaraan Pemilu di Indonesia, integritas, dan kompetensinya, apabila nanti terpilih menjadi anggota KPU. Demikian juga terhadap dua peserta berikutnya, Abdul Haeba dan Arief Budiman.

Peserta keempat, Hemat Dwi Nuryanto, seorang komisaris pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Informasi, diuji integritasnya jika nanti terpilih menjadi anggota KPU.

“Bagaimana dengan kemungkinan adanya confict of interest jika nanti anda terpilih?” tanya Imam Prasodjo.

Dijawab oleh Hemat, hal seperti itu tidak akan terjadi. “Hasil riset saya mengenai teknologi yang bisa diterapkan dalam penyelenggaran Pemilu, tidak akan saya komersilkan. Itu pun jika nanti dipakai,” ujarnya.
Hemat mengaku, ia telah melakukan riset terkait teknologi kepemiluan, termasuk penerapan e-counting dan e-voting, sejak tahun 2007.
“Yang paling cocok diterapkan di Indonesia, berdasarkan hasil riset, adalah teknologi optical scanning. Dengan sistem ini, dapat menghemat ongkos pemilu,” urainya.
Sementara, Adhy Syahputra Amin, dicecar terkait dengan bidang pekerjaannya selama ini, yang banyak bersinggungan dengan pihak asing, seperti di IFES dan IDEA. Ia menjamin, tidak ada kepentingan asing terkait keikutsertaannya mendaftar sebagai anggota KPU. Ia pun memberi garansi, akan menanggalkan pekerjaannya di lembaga-lembaga demokrasi asing tersebut, jika nanti terpilih.

Peserta lainnya, Enny Nurbaningsih, mengatakan, bahwa menjadi anggota KPU itu harus berani, jujur, dan berintegritas. “Tidak cukup hanya pintar saja untuk menjadi seorang anggota KPU,” tandasnya ketika ditanyakan apa saja syarat untuk menjadi anggota KPU.

Enny yang seorang doktor Hukum Tata Negara di UGM juga menyebutkan, apabila terpilih nanti, hal pertama yang harus dilakukan oleh anggota KPU adalah membuat peraturan-peraturan KPU terkait penyelenggaraan Pemilu tahun 2014. “Merujuk draft revisi Undang-Undang Pemilu yang saat iini sedang digodok oleh DPR, maka KPU harus membuat 36 peraturan untuk Pemilu Legislatif (Pileg), dan 12 peraturan untuk Pemilu Presiden-Wakil Presiden (Pilpres),” katanya.

Sedangkan Ummi Azizah, yang suaminya adalah seorang anggota Partai Golkar, dicecar mengenai independensinya jika nanti terpilih sebagai anggota KPU. “Beranikah anda memberi garansi jika nanti terpilih sebagai anggota KPU, suami anda harus menyatakan mundur dari kepengurusan Partai Golkar di media massa?” tanya Saldi Isra. Ummi menjawab bahwa ia akan melakukan hal tersebut.

Peserta terakhir hari kedua ini, Lukman Hakim, ditanya mengenai prestasi terbaiknya selama menjadi anggota KPU Provinsi Banten, dan apa yang akan dilakukan jika nanti terpilih menjadi anggota KPU.

Lukman menjawab, ia akan memperbaiki proses pemutakhiran data pemilih yang dilakukan oleh KPU. Ia menuturkan, pada Pemilu tahun 2009 lalu, ia membuat terobosan dengan membuat stiker yang ditempelkan di setiap rumah, yang menunjukkan bahwa rumah tersebut sudah didata oleh Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP).

Terkait integritas yang ditanyakan oleh Prof. Azyumardi Azra, Lukman menjamin, dirinya memiliki integritas yang tidak perlu diragukan jika terpilih menjadi anggota KPU kelak.
“Dalam CV-nya, Lukman bahkan memberi nilai 99% untuk integritas dirinya,” beber Prof. Azyumardi.

Di tempat yang sama, besok (Rabu, 15/2), tes wawancara terhadap calon anggota KPU akan dilanjutkan. Masih tersisa sepuluh orang calon yang akan dicecar oleh Timsel. (dd)
 
KOMISI PEMILIHAN UMUM

Jl. Imam Bonjol No. 29
Jakarta 10310
Tlp. 021-31937223
Fax. 021-3157759

© 2009 Komisi Pemilihan Umum